Minggu, 04 Maret 2012

TAGATAT TEJASEN : ILMUWAN THAILAND YANG ISLAMKAN LIMA MAHASISWA SEBELUM MENJADI MUSLIM

Tagatat Tejasen: Ilmuwan Thailand yang ‘Islamkan’ Lima Mahasiswa Sebelum Menjadi Muslim


0
0diggsdigg
email

Tagatat Tejasen (WordPress / RoL)

 
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)
Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Namun tidak demikian bagi Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.
***

Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.
Tejasen yang beragama Buddha kemudian mengatakan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut pada mereka.
Setahun kemudian, Mei 1982, Tejasen menghadiri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya, dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.
Ia kemudian menerima saran para ilmuan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari tiga lapisan global, yakni Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan yang terakhirlah, Sub Cutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.
Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub Cutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka bakar tersebut.
Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan kebenaran Alquran. Ayat 56 surah An-Nisa’ mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar, agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.
Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”
***

Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”
Mereka memberitahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah, yang membuat Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.
Dari para ilmuan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.
Profesor yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai lalu itu kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worlofislam.info menyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu, di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.
Hingga akhirnya, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.
Di akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konferensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Al-Qur’an, juga kekagumannya pada makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini kebenaran Islam.
“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran, yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Maha Pencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat syahadat. (Heri Ruslan/Devi Anggraini Oktavika/RoL)

KISAH SEORANG YAHUDI YANG MENGISLAMKAN JUTAAN ORANG

Kisah Seorang Yahudi yang Mengislamkan Jutaan Orang


Oleh: Mustamid Di suatu tempat di Prancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim. Ia adalah orangtua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen di mana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama "Jad" berumur 7 tahun.

Jad, si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat di mana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah. Setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.
Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.
"Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu”, ujar Jad sebagai tanda persetujun.

Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang seorang Muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi
Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.
Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.
14 Tahun Berlalu
Jad kini telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.
Alkisah, Ibrahim akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya di mana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.
Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak. Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim-lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya,  dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.
Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.
Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.
Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.
Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, "Buku apa ini?"Ia menjawab, "Ini adalah Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam!"

Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,
Jad lalu kembali bertanya, "Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?"Temannya menjawab, "Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!"

Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!

Islamkan 6 juta orangKini Jad sudah menjadi seorang Muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur'an.

Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur'an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.
Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua Afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :
((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ...!!))
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!...” [QS. An-Nahl; 125]
Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.
Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang di antaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zulu, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.

Akhir Hayat Jadullah

Jadullah Al-Qur'ani, seorang Muslim sejati, da'i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.
Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.

Kisah pun belum selesai

Ibu Jadullah Al-Qur'ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.
Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Yang menjadi pertanyaannya, "Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?"

Jadullah Al-Qur'ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: "Hai orang kafir!" atau "Hai Yahudi!" bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: "Masuklah agama Islam!"
Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua Muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an.
Kemudian dari kesaksian Dr. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani.
Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Dan Jadullah Al-Qur'ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.
Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur'ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai "Syaikh Kaum Revolusioner Mesir". Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.
Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur'ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid'ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.
Dulu da'i-da'i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.
Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –'alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir'aun. Allah berfirman,
((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى))
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

Bayangkan, Fir'aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut, tanpa menyebut dia Kafir Laknatullah! Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari Fir'aun, di mana Al-Qur'an pun merekam kekafirannya hingga kini?
Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur'an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?
Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini.Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam.
Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillahi min Dzalik.

Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –'alaihissalam–. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!
Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun "menggerogoti" akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja. Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab.*
Penulis adalah mahasiswa Program Licence Universitas Al-Azhar Kairo Konsentrasi Hukum Islam. Facebook; MustamidKeterangan: Muslim Afsel dan foto Penulis

Sabtu, 25 Februari 2012

KISAH INSPIRATIF, Ibuku hanya punya satu mata

Sebuah kisah yang mungkin sering kita baca...tak ada salahnya untuk merefresh..agar kecintaan pada ibu kita semakin dalam....datangi ibu kita dan kecup keningnya...minta didoakan kebaikan bagi kita...

Aku benci dia… dia begitu memalukanku.
Dia memasak untuk murid dan guru guna mencukupi kebutuhan keluargaku
Suatu hari saat aku di sekolah dasar, ibu mendatangiku dan mengucap salam padaku
Aku begitu malu saat itu
Bagaimana dia bisa melakukan itu padaku didepan teman-temanku?!
Aku abaikan dia dan melemparkan pandangan benci padanya sambil lari
Esok harinya, salah seorang teman kelasku mengejekku dgn mengatakan
Eeee, ibumu hanya punya satu mata…!
Aku malu sekali dan ingin mati rasanya
Aku juga ingin ibuku pergi dari kehidupanku
Aku bertengkar hebat dengan ibuku dan kukatakan padanya:
Kalau ibu hanya jadi sumber bahan tertawaan teman-temanku, mengapa ibu tak mati saja!
Ibuku tak menjawab…!!!
Aku sama sekali tak mau berpikir tentang apa yang kukatakan
Karena aku sangat marah padanya.
Aku tak pedulikan apapun perasaan dia
Aku ingin keluar dari rumah itu…!
Jadi aku belajar dgn keras agar aku mendapat kesempatan belajar di luar negeri
Kemudian aku menikah
Kubeli rumah
Aku punya anak dan aku hidup bahagia
Suatu waktu ibu mengunjungiku
Dia bertahun-tahun tak melihatku dan bahkan belum pernah bertemu cucu2nya
Ketika ibu berdiri di depan pintu,
Anak-anakku mentertawakannya
Aku berteriak padanya: Betapa beraninya kamu datang ke rumahku
Dan menakut-nakuti anakku
PERGI DARI SINI SEKARANG!
Ibuku menjawab perlahan
“Maaf… saya salah alamat”
Dan diapun pergi
Suatu waktu, ada undangan reuni dikirimkan ke rumahku
Jadi aku berbohong pada istriku
Kukatakan bahwa aku ada tugas keluar kota
Usai reuni, aku mampir ke kampungku untuk sekedar rasa ingin tahu
Salah seorang tetanggaku mengatakan bahwa ibuku telah meninggal dunia
Aku tak terharu ataupun meneteskan air mata..!
Tetanggaku itu menyerahkan sepucuk surat dari ibu untukku
Anakku tersayang,
Aku memikirkanmu setiap waktu
Maafkan aku datang ke rumahmu dan membuat takut anak2mu
Aku sangat gembira ketika kudengar kau akan datang ke reuni
Tapi sayangnya aku tak bisa bangkit dari tempat tidur untuk melihatmu
Maafkan aku yang membuat malu kamu saat kita masih bersama
Ketahuilah anakku…
Ketika kau masih kecil, kau mengalami kecelakaan yang membuatmu kehilangan matamu
Sebagai ibu, aku tak bisa berdiam diri membiarkanmu tumbuh dengan 1 mata saja
Jadi… kuberikan 1 mataku padamu
Aku sangat bangga pada anakku yang telah memperlihatkanku dunia baru untukku
Di tempatku, dengan mata itu
Bersama cintaku…

klo yang menginginkan bentuk powerpoint ada background song di sini...http://www.ziddu.com/download/4853313/IBUKUBUTASEBELAHMATA.pps.html

Jumat, 24 Februari 2012

Demi Masa: KISAH SEORANG PEMUDA DAN IMAM

Demi Masa: KISAH SEORANG PEMUDA DAN IMAM

KISAH SEORANG PEMUDA DAN IMAM

 
Kisah seorang pemuda dan seorang imam

Soalan 1 Pemuda
Jawapan dengan Imam...
...
Pemuda : Anda siapa Dan bolehkah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Imam : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.
Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Imam : Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 soalan:-
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud tuhan kepada saya?
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama.
Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba Imam tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : Kenapa anda marah kepada saya? (sambil menahan sakit)
Imam : Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawapan saya atas 3
pertanyaan yang anda ajukan kepada saya. Inilah jawabannya..."
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak faham.
Imam : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Imam : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?
Pemuda : Ya!
Imam : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
Pemuda : Saya tidak boleh.
Imam : Itulah jawapan pertanyaan pertama. Kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Imam : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.
Imam : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak.
Imam : Itulah yang dinamakan takdir.
Imam : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.
Imam : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.
Imam : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.
Imam : itulah jawapan untuk soalan ketiga. Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan...
"Sahabat, Mari kita duduk, sejenak?" pikirkan dan renungkan........

KEHARMONIAN ANTARA AL-QURAN DAN SAINS

Sains dan al-Quran tidak dapat dipisahkan. Walau bagaimanapun al-Quran bukannya sebuah buku sains. Ia adalah wahyu Allah. Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk agar manusia dapat membezakan antara yang hak dengan yang batil. Walau bagaimanapun terdapat dalamnya ayat-ayat yang menceritakan tentang kejadian alam semesta serta fenomena-fenomena yang berkaitan dengannya.
Sains ialah penemuan berdasarkan cerapan dan kajian yang dilakukan oleh manusia. Secara dasarnya, penemuan yang sahih tentang alam tidak akan bercanggah dengan al-Quran. Hal ini disebabkan al-Quran dan alam datang daripada Allah: al-Quran diturunkan oleh Allah dan alam dicipta oleh Allah. Kedua-duanya adalah daripada Allah. Justeru, hubungan antara kedua-duanya adalah suatu hubungan yang harmonis.
Antara ayat al-Quran yang menjelaskan tentang hubungan ini ialah ayat 53 dalam surah Fussilat yang bermaksud, “Akan Kami tunjukkan kepada mereka bukti-bukti kebenaran Kami di segenap ufuk (penjuru) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas kepada mereka bahawa al-Quran itu benar.”

Ada ulama yang mentafsirkan ayat ini secara yang berbeza sedikit. Bagi mereka ayat ini bermaksud, “Akan Kami tunjukkan kepada mereka bukti-bukti kebenaran Kami di segenap ufuk (penjuru) dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas kepada mereka bahawa Islam itu benar.”
Walau bagaimanapun, dalam kitab Tafsir al-Quran al-Azim, Imam Ibn Kathir berkata, “(Allah) akan tunjukkan bukti-bukti serta dalil-dalil di alam ini yang menunjukkan bahawa al-Quran ini adalah benar.” Untuk menerokai dan mengeluarkan bukti serta dalil daripada alam, sains diperlukan.
Seterusnya, berhubung dengan firman Allah yang bermaksud, “Dan pada diri mereka sendiri,” Imam Ibn Kathir berkata, “Berkemungkinan yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah apa yang terdapat dalam tubuh badan manusia yang menakjubkan, sebagaimana yang dapat dilihat dalam ilmu tasyrih (anatomi). Kesemua ini akan menampakkan kebijaksanaan Yang Maha Pencipta.” Untuk mengenali organ serta memahami sistem yang terdapat dalam tubuh manusia, sains juga diperlukan.

Konklusi yang dibuat as-Syeikh Said Hawa berhubung ayat ini amat menarik sekali. Dalam al-Asas fit Tafsir beliau berkata, “Dalam buku saya bertajuk ‘Ar-Rasul’ saya membuktikan bagaimana Allah menunaikan janjinya yang terdapat dalam ayat ini. Jika manusia melihat kepada segenap penjuru alam dan diri mereka sendiri, mereka akan melihat sesuatu yang membenarkan al-Quran. Apabila apa yang mereka lihat itu dikaitkan dengan apa yang terdapat dalam al-Quran, mereka akan meyakini bahawa al-Quran sebenarnya datang daripada Allah. Saya telah memberikan banyak contoh berhubung perkara ini dan sesiapa yang membaca kitab tafsir ini (iaitu al-Asas fit Tafsir) dia akan memahaminya secara yang lebih jelas.”
Dalam Tafsir al-Azhar pula Hamka berkata, “Dalam ayat ini dinyatakan bahawa al-Quran ini kian lama kian nyata kebenarannya. Bukti kebenaran itu akan muncul di segenap penjuru bahkan pada diri mereka (manusia) sendiri. Mungkin beberapa perkara yang diterangkan Quran tatkala ia mula diturunkan belum difahami tetapi kelak (ketika zaman berubah) dan otak manusia menjadi (semakin maju) akan nampaklah kebenaran itu. Sudah 14 abad Quran diturunkan dan semakin berkembang pengetahuan manusia tentang alam (semakin) bersinarlah rahsia kebenaran Quran.”
Justeru, ayat ini merupakan jambatan antara sains dan Quran. Ia mengisyaratkan bahawa penemuan-penemuan sains masa kini yang berkaitan dengan alam dan manusia akan menampakkan, tanpa ragu-ragu lagi, kebenaran al-Quran. Yang penting ialah kajian sains yang dilakukan mestilah merupakan suatu kajian yang sahih dan ayat al-Quran yang hendak ditafsirkan mestilah merupakan satu ayat yang boleh dikaitkan dengannya, selepas merujuk kepada tafsiran yang muktabar. Justeru, penemuan-penemuan sains masa kini boleh dimanfaatkan untuk memahami ayat-ayat tertentu dalam al-Quran.
Hasil Nukilan :

Dr. Danial Zainal Abidin
dzcsyifa@streamyx.com
http://danialzainalabidin.com

AL-QURAN MELAHIRKAN MINDA PROGRESIF LAGI SAINTIFIK

Allah memberikan penghormatan kepada golongan yang suka mengkaji alam dan memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepadaNya. Allah menggelar mereka sebagai ulul albab dan hal ini amat signifikan bagi umat Islam. Ia merupakan rangsangan yang istimewa daripada Allah agar umat Islam mendekati alam untuk mengkajinya. Dengan itu ketakwaan mereka kepada Allah akan meningkat. Secara khusus, antara ciri yang terdapat pada ulul albab ialah suka mengkaji dan bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi. Pada hari ini golongan yang banyak mengkaji tentang kejadian langit dan bumi ialah pakar-pakar sains dalam bidang astronomi dan astrofizik. Justeru, ayat 190 dalam surah Ali Imran berhubung ulul albab merangsang umat Islam agar menjadi saintis. Saintis yang mahu dihasilkan mengikut formula al-Quran ialah saintis yang mengingati Allah di mana saja dia berada. Bukannya saintis yang ateis.
Al-Quran sememangnya mahu umat Islam memiliki minda yang saintifik. Minda yang saintifik merupakan minda yang kuat berfikir, kritikal, mampu menganalisis data dan fakta, serta mampu membuat andaian dan kemudiannya konklusi terhadap apa yang dicerap. Minda saintifik menolak sebarang laporan dan pandangan yang tidak berlapikkan bukti dan dalil.
Sebenarnya minda seperti inilah yang mahu dilahirkan oleh Islam kerana Islam menyuruh umatnya agar tidak mengikut sesuatu yang tidak bersandarkan bukti dan dalil. Dalam surah al-Israk ayat 36 Allah berfirman,
Janganlah kamu mengikut apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Berhubung dengan ayat ini, Syed Qutub berkata dalam Fi Zilal al-Quran,
Janganlah kamu mengikut sesuatu tanpa berpandukan ilmu yang meyakinkan dan (janganlah mengikut sesuatu) yang tidak terbukti kesahihannya.
Mementingkan Bukti Bukan Menjadi Pak Turut
Dalam surah al-Baqarah ayat 259, Allah menceritakan tentang seorang lelaki yang telah Allah matikan selama seratus tahun sebelum dihidupkannya semula. Kemudian Allah memaparkan kepadanya bukti-bukti tentang kekuasaan Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. Allah berfirman,
Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) seorang lelaki yang melalui sebuah negeri yang temboknya telah roboh menutupi atap-atapnya. Dia berkata: Bagaimanakah Allah akan menghidupkan negeri ini yang sudah hancur? Maka Allah mematikannya selama seratus tahun kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: Berapa lamakah kamu tinggal di sini? Dia menjawab: Satu atau setengah hari sahaja. Allah berkata: Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah. Lihatlah juga kepada keldaimu (yang telah menjadi tulang-belulang), dan Kami jadikan kamu sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah kepada tulang-belulang (keldai) itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali dan Kami membalutinya dengan daging. Selepas jelas baginya (tentang bagaimana Allah menghidupkan orang mati) dia pun berkata: Sesungguhnya aku yakin bahawa Allah Maha berkuasa atas setiap sesuatu.
Lihatlah bagaimana bukti dan dalil menguatkan keyakinan lelaki ini terhadap Allah.
Demikian jugalah yang berlaku ke atas nabi Ibrahim. Dalam surah al-Baqarah ayat 260 Allah menceritakan tentang nabi Ibrahim yang suka menguatkan keyakinan baginda melalui bukti yang jelas. Baginda berkata,
“Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang bagaimana Kamu menghidupkan mereka yang mati. Berkata Allah: Apakah kamu tidak yakin? Berkata Ibrahim: Aku telah yakin akan tetapi agar hatiku mantap (dengan iman).”
Oleh sebab bukti dan dalil adalah penting, Islam tidak pernah memaksa orang-orang bukan Islam memeluk Islam. Sebaliknya mereka yang bukan Islam diutarakan hujah yang rasional tentang kebenaran Islam sekali gus menyerlahkan kepalsuan pegangan mereka. Sebagai contoh, ketika Allah berbicara tentang penyembahan patung-patung berhala, Allah menggunakan hujah serta dalil yang boleh difahami untuk menjelaskan tentang kesesatan amalan itu. Dalam surah al-Haj ayat 73 Allah berfirman,
Wahai manusia telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat mencipta seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah jugalah yang disembah.
Demikian jugalah pendekatannya ketika Allah berbicara tentang alam ghaib, sebagai contoh, kebangkitan semula selepas mati. Allah membuktikan kebenaran kejadian itu dengan mengaitkannya dengan fenomena alam yang boleh dilihat dan difahami oleh manusia. Dalam surah Faatir ayat 9 Allah berfirman,
Allah jualah yang menghantarkan angin dan angin itu menggerakkan awan, kemudian Kami halakan awan itu kepada negeri yang mati (kawasan kering kontang) dan Kami hidupkan bumi itu sesudah matinya (dengan menurunkan hujan). Demikianlah juga kebangkitan manusia (iaitu kehidupan selepas mati).
Pendekatan seperti ini mampu mengetuk minda serta menjentik hati. Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas bahawa pencarian bukti dan dalil merupakan suatu yang amat dituntut oleh agama kerana melaluinya keyakinan dan cara hidup yang mantap akan terbina. Jika keyakinan seseorang telah pun mantap, ia akan memantapkan lagi keyakinan itu. Dalam konteks nabi Ibrahim, permintaan baginda untuk melihat bagaimana Allah menghidupkan orang yang mati bertujuan untuk meningkatkan lagi makam keyakinan baginda daripada ilmu al-yakin (keyakinan berdasarkan hujah ilmu) kepada ain al-yakin (keyakinan berdasarkan penglihatan). Hal ini disebutkan dalam al-Asas fit Tafsir oleh Said Hawa.

Minda Saintifik
Minda saintifik membenci khurafat dan tahayul. Khurafat dan tahayul merupakan kepercayaan yang tidak berasaskan bukti lagi tidak masuk akal. Islam menentang kepercayaan yang seperti ini, sebagai contoh, kepercayaan terhadap konsep sial majal. Berhubung dengan ini Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda nabi yang bermaksud,
Tidak ada sial majal (dalam Islam).
Dalam riwayat yang lain oleh Bukhari, nabi bersabda, “Tidak ada sial pada bulan Safar.” Dalam sesetengah masyarakat kadang kala kesialan dikaitkan dengan bunyi binatang tertentu, contohnya burung hantu, ataupun suara-suara tertentu. Nabi menolak kepercayaan yang dangkal ini melalui sabda baginda yang bermaksud, “(Mempercayai) kesialan pada suara-suara (tertentu)….. ialah dari perbuatan syaitan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud.
Sebagai satu agama yang saintifik, Islam menerima penemuan serta kajian yang sah lagi autentik terutamanya di sudut duniawi. Nabi Muhammad merupakan contoh yang terbaik dalam aspek ini. Dalam aspek duniawi baginda amat menghormati rumusan dan konklusi yang diputuskan berdasarkan pengamatan serta bukti yang sahih. Pernah pada suatu ketika, baginda menegur sahabat-sahabat yang telah mengacukkan pohon-pohon kurma demi memperoleh hasil yang lebih baik. Kerana menghormati nabi, mereka tidak lagi mengacukkan pohon-pohon itu. Hasilnya ialah produktiviti yang menurun dan pengalaman ini akhirnya mereka ceritakan kepada baginda. Nabi terus menyuruh mereka meneruskan dengan amalan yang asal, iaitu mengacukkan pohon-pohon kurma, kerana telah terbukti cara itu mendatangkan hasil yang lebih baik. Berkaitan dengan insiden inilah, nabi bersabda (berpandukan hadis Muslim daripada Rafi’ bin Khadij), “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.”

Minda Progresif
Al-Quran merupakan sumber rujukan nombor satu bagi umat Islam. Ia dipenuhi dalil serta bukti yang pelbagai berkaitan dengan alam, manusia serta sistem hidup. Al-Quran berjaya membentuk umat Islam menjadi golongan yang progresif mindanya. Daripada al-Quran, umat Islam memiliki kefahaman yang betul tentang alam dan kehidupan.
Sebagai contoh, umat Islam, lama sebelum lahirnya teori Big Bang, sudah mengetahui bahawa langit dan bumi pada asalnya bercantum padu sebelum bermula proses kejadian alam. Pengetahuan ini adalah berdasarkan firman Allah dalam surah al-Anbiya ayat 30 yang bermaksud,
Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahawa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu (ratqa) kemudian Kami pisahkan antara keduanya (fataq).” Kesan daripada ayat ini lahirlah pandangan sebagaimana yang diutarakan oleh ulama tabiin iaitu Imam Said bin Jubair yang telah meninggal lebih daripada seribu tahun dahulu. Beliau berkata, “Langit dan bumi sebelum ini melekat antara satu sama lain. Apabila langit ditinggikan dan dengan itu zahirlah bumi maka berlakulah pemisahan dan itulah yang dimaksudkan Allah dalam ayat ini.
Tambahan daripada itu, ulama Islam dari kalangan sahabat-sahabat nabi dan generasi selepas mereka juga telah mengetahui, berpandukan ayat-ayat al-Quran, bahawa proses kejadian bayi melalui pelbagai tahap, bermula dengan percantuman antara benih lelaki dengan benih perempuan. Mereka tidak pernah mengatakan bahawa kejadian bayi bermula dengan percantuman antara air mani lelaki dengan darah haid wanita seperti yang dinyatakan oleh Aristotle. Sebagai contoh sahabat nabi Abdullah ibn Abbas berkata,
Air lelaki telah bertemu dengan air perempuan kemudian ia bergabung dan bercantum dan selepas itu ia berubah daripada satu tahap ke satu tahap yang lain dan daripada satu keadaan ke satu keadaan yang lain dan daripada satu warna ke satu warna yang lain.
Pandangan yang sama juga telah dinyatakan oleh Imam Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, dan Rabie’ bin Anas, seperti yang disebutkan oleh Ibn Kathir dalam Tafsir al-Quran al-Azim.
Di barat pula keadaannya adalah berbeza. Pakar-pakar biologi di sana, pada abad ke-17 dan 18 Masihi, masih lagi terbahagi kepada dua kumpulan. Kumpulan pertama mengatakan bayi telah sedia wujud dalam sperma lelaki dalam bentuk yang kecil sebelum persetubuhan berlaku. Golongan ini dikenali sebagai homunculists. Golongan kedua pula yang dikenali sebagai golongan ovists, mempercayai bayi telah sedia wujud dalam ovari wanita. Apabila persetubuhan berlaku embrio-embrio kecil ini seolah-olahnya mendapat lampu hijau untuk terus hidup dan membesar. Hal ini dilaporkan di Human Developmental Anatomy Center (Research Collections, National Museum of Health and Medicine, Washington D.C.), di http://nmhm.washingtondc.museum/collections/hdac.
Lebih menakjubkan, para sahabat juga telah mengetahui bahawa kadar hujan yang turun di muka bumi adalah sama pada setiap tahun. Hal ini adalah berdasarkan beberapa firman Allah, antaranya ayat 11 dalam surah az-Zukhruf yang bermaksud,
Dialah yang menurunkan air dari langit mengikut kadar lalu Kami hidupkan dengan air itu bumi yang mati….
Berhubung dengan ini, Ibn Kathir meriwayatkan kenyataan Abdullah ibn Abbas dan Abdullah ibn Masud yang berkata,
Tidaklah hujan yang turun pada suatu tahun melebihi kadar hujan yang turun pada tahun-tahun yang lain.
Kenyataan mereka memang selari dengan penemuan sains moden kerana pusingan hidrologi dunia (hydrologic or water cycle) menunjukkan kadar hujan yang turun adalah sama pada setiap tahun. Hal ini disebutkan dalam Wikipedia Encyclopedia bersumberkan daripada NASA dan United States Geological Survey. Pakar-pakar menganggarkan air hujan yang turun dari langit ke bumi mencecah 513 trilion ton setiap setahun tanpa sebarang perubahan.
Justeru, ajaran Islam berjaya membentuk minda saintifik lagi progresif di kalangan umat. Kesan daripada itu maka lahirlah saintis-saintis Muslim yang agung lagi mengagumkan. Kekaguman ini pernah disuarakan oleh seorang tokoh sains dari barat, George Sarton (1884-1956), dalam buku beliau yang bertajuk Introduction to the History of Science (Carnegie Institution of Washington Publication No. 376, Baltimore, 1927). Beliau berkata,
Memadai rasanya jika kita sekadar menyebutkan beberapa nama tokoh Islam yang tidak ada tandingannya di barat ketika itu. Antaranya ialah Jabir ibn Haiyan, al-Kindi, al-Khwarizmi, al-Fargani, al-Razi, Thabit ibn Qurra, al-Battani, Hunain ibn Ishaq, al-Farabi, Ibrahim ibn Sinan, al-Masudi, al-Tabari, Abul Wafa, Ali ibn Abbas, Abul Qasim, Ibn al-Jazzar, al-Biruni, Ibn Sina, Ibn Yunus, al-Kashi, Ibn al-Haitham, Ali Ibn Isa al-Ghazali, al-Zarqab dan Omar Khayyam. Inilah nama-nama yang mengagumkan dan lis ini adalah lebih panjang daripada ini. Jika ada seseorang memberitahu anda bahawa bumi Timur Tengah sebelum ini ketandusan sains, sebutkan nama-nama ini kepadanya. Kesemua mereka ini berkembang antara tahun 750 hingga 1100 Masihi.
Hasil Nukilan :

Dr. Danial Zainal Abidin
dzcsyifa@streamyx.com
http://danialzainalabidin.com